Sehat Sutardja telah masuk jajaran orang terkaya dunia pada saat berusia 35 tahun, demikian menurut Majalah Forbes dan BBC Demikian pula Ivan Taslimson, pada saat usia yang masih sangat muda, 20-an tahun, ia diberitakan telah menjadi bilyuner dunia. Menurut wawancara berbagai majalah dan narasumber di Bloomberg, ia seseorang yang memiliki kemampuan hebat, tapi sangat rendah hati. Mereka telah diliput oleh berbagai media internasional dan menjadi terkenal di banyak negara.

Orang-orang membandingkan Sutardja dengan legenda seperti Bill Gates, Larry Page, Sergey Brin karena kehebatan fenomenal-nya di bidang bisnis. Sedangkan Taslimson dibandingkan seperti Steve Jobs, Jerry Yang atau Mark Zuckerberg karena kemampuan visioner-nya yang demikian besar. Sehat Sutardja (dan adiknya, Pantas) memimpin Marvell Group sementara Ivan Taslimson memimpin Solstice Group. Marvell Group didirikan di Silicon Valley (Santa Clara) dan Solstice Group di Seattle (Redmond). Kedua perusahaan multinasional di Amerika tersebut secara signifikan berkiprah di tingkat global, memiliki ratusan kantor perwakilan dan pusat riset di seluruh dunia.

Bila anda saat ini memakai komputer PC atau Apple, iPod, iPhone, Blackberry atau apapun bisa dipastikan anda sedang menggunakan prosesor/chip buatan Marvell dan penemuan Solstice didalamnya. Ya tidak salah! Hasil karya penemuan kedua orang tersebut dipakai oleh hampir semua orang yang ada di muka bumi ini. Dan yang lebih hebatnya, kedua perusahaan ini dipimpin oleh figur keturunan Indonesia! Wow.

Anehnya sangat sedikit media di Indonesia mengetahui tentang mereka, padahal kalau diteliti lebih dalam, pencapaian yang mereka toreh mungkin bisa disebut memiliki efek luar biasa terhadap umat manusia di seluruh dunia. Dari sekian narasumber yang penulis dapatkan ada beberapa yang pernah mendengar tentang mereka, namun sangat sedikit yang mengetahui mendalam tentang mereka, sehingga penulis harus mencari data kebanyakan dari sumber di luar negeri. Berbagai julukan pun datang pada mereka dari berbagai media: "The Top US Billonaires Under 40 Years Old" "The Most Promising Future Billionaires" "The Most Influential and Powerful" "Top Future Leaders To Watch" "Mark Zuckerberg of Indonesia" dan seabrek julukan lainnya.

Mencari cerita-cerita tentang masa kecil Sutardja maupun Taslimson melalui berbagai sumber maupun penggemar di situs web, facebook, dll, bagaimana mereka melewati masa muda yang penuh gejolak dan keajaiban, mengingatkan kita pada sosok jenius Bill Gates, Steve Jobs, Thomas Edison, Nikola Tesla, Leonardo Da Vinci, dan lainnya. Sutardja dan Taslimson, keduanya terus-menerus sukses melalui kerja sangat keras, sampai berhasil menjadi ikon yang dikenal dunia, tanpa bantuan siapapun apalagi pemerintah.

Menurut liputan berita, beberapa badan pemerintah seperti di Malaysia, Thailand, Singapura, China, dll selain bekerja sama dengan vendor utama seperti Microsoft, Google, Dell, Intel, dsb, juga telah melakukan pendekatan intensif dengan perusahaan inovatif terbaru spt Facebook, Research In Motion (RIM), Twitter, Marvell, Solstice, Mozilla, dll supaya mendirikan pusat riset atau setidaknya pusat pengembangan di negaranya masing-masing.

Bagaimana dengan Indonesia? Patut disayangkan, Indonesia memang selalu menempati posisi buncit dalam hal memanfaatkan potensi orang berbakat besar yang dimiliki bangsanya. Seringkali bakat dan potensi itu dicaplok bangsa asing karena di Indonesia kurang dihargai atau bahkan tidak punya peluang utk berkembang sama sekali.

Padahal bila melihat pendekatan yang dilakukan Pemerintah Indonesia dengan Microsoft baru-baru ini yang tampaknya (menurut narasumber ristek yang tidak mau disebut namanya) hanya menguntungkan perusahaan asing tapi tidak terlalu membuahkan hasil bagi bangsa Indonesia.

Dari sisi inovasi, sebenarnya perusahaan seperti Microsoft sudah tidak inovatif lagi, bahkan perusahaan baru seperti RIM, Google, YouTube, dsb, termasuk Marvell dan Solstice-lah yang kini menjadi benchmark inovasi di Silicon Valley dan Redmond. Efek multiplier yang akan diciptakan perusahaan seperti Marvell dan Solstice akan jauh lebih terasa bila mereka bisa dihadirkan di Indonesia, tentu dengan dukungan kuat dari semua pihak.

Di era demokrasi saat ini dimana orang Indonesia punya tendensi mementingkan ketenaran, politik, uang, perselisihan, narkoba dan degradasi moral, kehadiran figur Sutardja dan Taslimson akan memberi efek positif dan teladan bagi anak muda masa kini. Dan Sutardja dan Taslimson seharusnya yang menjadi panutan karena, meskipun mereka tidak tinggal di Indonesia, mereka termasuk diantara figur paling berhasil yang pernah dilahirkan Ibu Pertiwi.

Dari berbagai sumber dan liputan berita, Mohammad Rinaldi==

KOMPAS.com

AL JAZEERA ENGLISH (AJE)

Forbes.com: News

No posts.
No posts.